Ngabisin Weekend di Jogja Berdua Nana

Siapa yang long weekend di bulan Oktober ini jalan-jalan? Bukan akuuu hehe. Mengawali bulan November yang katanya November Rain, saya dan Nana memilih untuk menghabiskan weekend di Jogja. Kenapa gak pas long weekend kemarin? Gak deh, pasti rame hehe.

Tiba Jumat sore di Jogja, kami bergegas untuk menaruh semua barang bawaan kami di penginapan terlebih dahulu. Penginapan kami tidak begitu jauh dari pusat kota, hanya sekitar 4km dari Stasiun Tugu. Kami menginap di penginapan low budget yang begitu nyaman, Trava House namanya. Di artikel sebelumnya, saya juga sudah sempat mereview Trava House ini, jangan lupa dibaca ya.

Malam pertama di Jogja, kami hanya makan malam di angkringan Kopi Jos Pak Agus dekat Malioboro. Seperti biasa, favorit saya di kopi jos ya kopi hitam dengan arang, sedangkan Nana memesan teh sereh. Tidak lama, kami segera pindah karena di Angkringan Pak Agus sudah mulai ramai, maklum jam makan malam. Lalu kami melanjutkan belanja celana pendek untuk tidur di sepanjang Jalan Malioboro. Berhubung saat itu ramai dan Jogja terasa sangat panas sekali, kami lantas begitu saja masuk ke dalam Mall Malioboro untuk membeli yogurt.

Karena besok subuh kami sudah memiliki agenda ke Putuk Setumbu dan Bukit Rhema, maka saya dan Nana memutuskan untuk kembali ke penginapan agar bisa beristirahat lebih awal.

Tepat jam 2 pagi dini hari, saya dan Nana sudah terbangun dan segera membuat teh lalu bersiap-siap untuk perjalanan ke Putuk Setumbu. Kami mulai meninggalkan penginapan pada pukul 3.00 dengan menggunakan motor yang kami sewa di Trava House.

Seperti yang ada dibayangan kalian, jam 3 dini hari Jogja terasa begitu sepi dan dingin. Kami terus mengikuti petunjuk maps yang mengarahkan kami dengan baik. Sekitar 40 km dengan estimasi waktu satu jam, kami akan tiba di Putuk Setumbu pukul 4.00 pagi.

“Na, share live location deh ke group”, kata gw ke Nana. Ternyata perjalanan dari Jogja menuju Putuk Setumbu itu gak seasik yang kami pikirkan, ya maklum masih dini hari jalanan sepi dan gelap banget. Kami beberapa kali selalu diarahkan ke persawahan dan jalur alternatif yang mana jalanannya sepi dan gelap banget haha.

Betul saja, kami sampai di Putuk Setumbu jam 4 pagi

Kami cukup lama menikmati suasana sunrise dan keindahan di atas Putuk Setumbu. Pemandangan asri penuh dengan kehijauan rasanya begitu menenangkan dan menyejukan pikiran. Saya langsung memesan kopi dan duduk sembari menikmati sejuknya udara pagi itu. Ah rasanya pagi ini gak pengen cepat berlalu.

Cukup lama kami menikmati keindahan dari atas Putuk Setumbu, lalu kami memutuskan untuk turun dan segera melanjutkan ke Bukit Rhema atau yang biasa dikenal Gereja Ayam yang jaraknya hanya 1km saja.

Bukit Rhema buka pukul 8.00 pagi saat itu, jadi kami lumayan lama menunggu di parkiran.

Untuk tiketnya berapa? Seingat saya untuk domestik 20ribu dan tiket jeep 15ribu pp untuk satu orang. Jadi untuk naik ke atas Bukit Rhema memang sudah disiapkan kendaraan jeep karena jalanan menuju ke atas sangat menukik. Saya dan Nana rombongan pertama yang sampai di Bukit Rhema, jadi kami masih bisa mendapatkan foto yang bagus di depan Bukit Rhema. Oh ya karena dalam masa pandemi Covid 19 ini, untuk masuk ke dalam Bukit Rhema dibatasi hanya 10-15 orang saja, jadi harus bergantian.

Selesai berkeliling di Bukit Rhema, kami segera kembali ke penginapan untuk beristirahat. Sebelum sampai penginapan, kami mampir untuk sarapan di Sop Ayam Pak Min di Jl. Taman Siswa.

Setelah selesai sarapan, kami lanjut pergi ke Tempo Gelato yang jaraknya tidak begitu jauh dari Sop Pak Min di Taman Siswa. Gak perlu banyak dijelaskan ya tentang Tempo Gelato ini. Dari banyak toko gelato di Jogja, buat saya Tempo Gelato yang paling pas dilidah saya hehe

Nyes! Rasanya udara panas di Jogja saat itu hilang seketika dengan dinginnya gelato. Gelato favorit saya itu matcha dan coffee, kalian apa? Hehe

Akhirnya sampai juga kami di penginapan. Panas, capek lalu lanjut tidur siang.

Malam harinya, kami pergi ke luar untuk makan malam di Koki Joni Pasta & Turkey cabang Terban. Kata Nana, pasti di Koki Joni ini cukup terkenal dan enak-enak, gak kalah sama rasa pasta yang ada di restaurant mahal.

Saya memesan Aglio Olio, Nana memesan pasta yng agak creamy dan satu menu Spinachy. Aku jatuh cintaaa sama menu spicachynyaaa sumpaaah enaaaak serius haha.

Lanjut gak nih? Lanjuuuut siisssss..

Kami lanjut ngopi dong. Tadinya saya dan Nana mau ngopi di Legend Coffee, tapi kami dapat info dari driver kalau tempat itu terlalu ramai dan dan kami direkomendasi untuk ke Taru Martani Coffee & Resto 1981.

Kafe dan restaurant yang berada diperkarangan pabrik rokok ini jadi tempat yang asik memang untuk menikmati malam di Jogja. Tempatnya outdoor dan luas, ada beberapa joglo jawa dan yang paling penting ada live musiknya. Taru Martini Coffee bisa jadi salah satu tempat yang wajib dikungjungi kalau mau ngopi di Jogja, dan mereka juga menjual cerutu yang langsung diproduksi dari pabriknya hehe.

Saya dan Nana cuma pesen minum dan cemilan lupis aja. Suprisingly lupisnya enak bangeet, gula merahnya itu sih mungkin yang bikin beda, enak deh pokoknya.

Udah malem, lelah mari kita kembali ke penginapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: