Staycation di Prime Park Hotel Pekanbaru

Walau Pekanbaru lagi hits dengan asap karhutla, tidak menyurutkan gw untuk mengunjungi Ibukota dari Provinsi Riau ini. Bukan karna alasan lain, memang sahabat gw akan meningkah di Pekanbaru sih haha, jadi gw harus tetep dateng.

Penerbangan pukul 4 sore dari Bandara International Soekarna Hatta, membuat penerbangan kali ini agak sedikit degdegan sih karena asap itu. Gw berangkat berdua dengan teman gw, alhamdulilah ada temen buat pegangan dipesawat gaes haha. 

Yes, penerbangan gw ternyata delay 30 menit dan akhirnya kita sampai di Bandara Sultan Syarif Kasim II sekitar pukul 19.00 waktu setempat. Setelah itu gw coba pesen taksi online untuk menuju hotel yang udah dibooking jauh-jauh hari sebelumnya. Hotel mana? Gw akan menginap di hotel Prime Park Pekanbaru yang deket banget dari bandara within 3 km deh kalo gak salah. Jadi setelah keluar dari gerbang Bandara Sultan Syarif, cuma tinggal puter balik aja dan sampe lah di Prime Park Hotel Pekanbaru. Sedeket itu sih haha

LRM_EXPORT_351842827070304_20191018_112021868

Prime Park Hotel Pekanbaru ternyata masih terbilang muda di Ibukota Riau ini. Pantas, semua bangunan dan konsepnya terlihat modern dan fresh dibanding hotel lainnya (kalo diliat dari Traveloka) haha. Hotel ini sebenernya gak terlalu mahal dan gak berbintang lima juga, cuma ambiencenya tuh berasa di hotel bagus aja gitu.

Gak terlalu mahal? Iya, menurut gw sih dengan hospitality service yang oke, staff yang ramah dan helpful dan konsepnya yang modern minimalist, ngebuat hotel ini agak terlihat fancy ya saat awal masuk. Nah buat harga per malam di hotel ini coba langsung cek aja di Traveloka aja ya, bisa pilih kamar dengan breakfast juga karena kayaknya agak susah nih kalo pagi cari makanan disekitaran hotel. 

LRM_EXPORT_358625582903298_20191018_144025771.jpeg

Prima Park Hotel Pekanbaru ini punya spot andalan yaitu, kolam renang dan cafenya. Untuk kolam renangnya buka dari jam 9 pagi sampai jam 10 malam. Buat cafenya buka 24 jam dan setiap hari Jum’at dan Sabtu selalu ada live musicnya sampai jam 10 malam. 

Fasilitas kamarnya gimana? Buat gw sih nyaman untuk kamar seharga 400ribu per malam yang sudah termasuk dengan breakfast, coffee/tea maker, mini refrigerator, free wifi dan minibar. Anyway, konon hotel ini empunya dari sebuah perusahaan BUMN yaitu PT PP Properti Tbk. 

LRM_EXPORT_358572964220644_20191018_143933153LRM_EXPORT_358597862665972_20191018_143958051LRM_EXPORT_358659901273389_20191018_144100090

Selain itu, Prime Park Hotel Pekanbaru juga memiliki 4 ruang meeting dengan kapasitas 20-500 orang serta ballroom yang dapat menampung hingga 1.200. Untungnya lagi adalah, hotel ini gak jauh kalau mau ke Mall atau kulineran ke Kimteng atau Sop Tunjang.

Udah gak bingung lagi kan nyari hotel di Pekanbaru? 

Prime Park Hotel Pekanbaru
Jl. Jendral Sudirman Blok A No. 5-6
Simpang Tiga, Pekanbaru, Riau Indonesia
https://www.primepark-pekanbaru.co.id

Featured Image: https://www.primepark-pekanbaru.co.id

Advertisements

Makan Sushi Murah dan Enak di Haikara Sushi Jakarta

“Apa sih makanan favorit kamu?”,  hayo apa hayo?. Biasanya pertanyaan makanan favorit sering kali muncul saat kamu sedang pedekate dengan doi. Gak cuma saat pedekate aja, kadang ketika kita memiliki teman baru, pertanyaan itu juga sering muncul.

Ada nih salah satu makanan favorit anak  muda jaman sekarang yaitu sushi. Siapa sih yang gak tau jenis makanan yang berasal dari negeri sakura tersebut, pastinya sudah familiar ya.

Di Selatan Jakarta, saya mencoba untuk mencari sebuah tempat makan sushi yang enak tapi aman dikantong alias murah. Yes, akhirnya saya menemukan sebuah surga kecil di kawasan Barito, Jakarta Selatan yang menyajikan sushi berkualitas namun harga tetap merakyat.

Haikara Sushi memang sudah berhasil memancing rasa penasaran setiap saya melewati Barito. Beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri untuk datang dan mencicipi sushi di Haikara Sushi, tepatnya di Jl. Barito II No. 9.

Entah ruko atau gedung, tapi tempat Haikara Sushi ini menjadi satu dengan Resto Ngalam, dan papan nama sushi juga tidak terlalu besar, sehingga kamu harus perlahan saat mencari tempatnya.

Buka mulai pukul 10 pagi hingga 10 malam, memang bisa menjadi alternatif kamu untuk mencicipi sushi dibilangan Jakarta Selatan. Walau tempat yang tidak terlalu besar, tapi suasana di Haikara Sushi sangat cozy untuk menikmati seporsi makanan khas Jepang ini.

Sampainya di Haikara Sushi, saya langsung memesan sashimi salmon, spicy edamame, california roll dan hana tuna roll. Tidak  membutuhkan waktu lama, semua makanan cepat tersaji dimeja saya.


20190301_210853

Dengan lahap dan tanpa basa basi, satu per satu semua jenis sushi yang saya pesan lahap saya santap. Kata pertama saat saya mulai mencicipinya adalah “wah bakal sering-sering makan di Haikara Sushi nih gw”.

Walau harga yang relatif murah dan bersaing, tetapi Haikara Sushi tetap memberikan rasa yang nikmat disetiap potongan sushinya. Apalagi buat kamu anak kuliahan, tempat ini bisa menjadi pilihan menyantap sushi dengan harga murah tapi rasa tetap berkualitas.

20190301_210535
Salmon Sashimi 42k
20190301_210650
Hana Tunal Roll 32k
20190301_211208
California Roll 26k
20190301_211157
Tuna Avocado Roll 30k

Gimana? Penasaran dengan Haikara Sushi? Yuk coba langsung aja datang disalah satu storenya yang berada di Barito.

Haikara Sushi
http://www.haikarasushi.com/
Buka 10.00-21.00
Jl. Barito 2 No. 9, Melawai, Jakarta

Featured Image: http://www.haikarasushi.com/

The Gade Coffee & Gold: Ngopi di Kafe Milik Pegadaian

Hitam dan emas adalah warna dominan yang akan menyambut kamu saat menyambangi sebuah kafe dibilangan Jakarta Selatan. Berlokasi di Jl. Wijaya IX, The Gade Coffee & Gold mencoba bersaingi dengan kafe-kafe kopi pendahulunya di Jakarta.

Kafe yang digawangi oleh salah satu perusahaan BUMN yaitu Pegadaain kini memberikan alternatif pilihan untuk para anak muda dengan menghadirkan sebuah kafe yang nyaman. Tidak hanya itu, sebenarnya The Gade Coffee & Gold dihadirkan supaya anak muda tidak perlu malu lagi untuk datang ke Pegadaian, karena di kafe ini mereka dapat menggadaikan barangnya melalui karyawan kafe.

The Gade Coffee & Gold beroperasi setiap harinya dimulai dari pukul 10 pagi s.d 10 malam. Mencoba bersaing dengan kafe lainnya, nyatanya kafe ini juga memberikan harga yang ramah bagi para customernya dan juga tetap menjaga kualitas rasa minuma serta makanan yang mereka jual.

Saat saya mencoba datang ke salah satu storenya di Jl. Wijaya IX, saya memesan Ice Lyche Milk Tea dan Ice Salted Caramel. Dari kedua minuman tersebut, saya mendapatkan sebuah pengalaman yang berbeda. Baru kali ini mencoba ice lyche yang dicampur dengan milk tea memiliki rasa yang sangat pas.

Tempat yang cocok untuk melakukan diskusi pekerjaan atau tugas sekolah karena tempat yang nyaman dan tidak terlalu ramai ini bisa menjadi pilihan kamu lho.

The Gade Coffee & Gold

Alamat
Jl. Wijaya IX, Dharmawangsa, Jakarta

 

#worldcancerday2019: “You’ll forever be missed, Jane”

You’ll forever be missed, Jane“, kira-kira itu adalah kata yang aku ucapkan tepatnya pada 24 Januari 2018 saat Jane pergi meninggalkan dunia ini. Semua berawal ketika ada pesan Whatsapp yang masuk di group Relawan Content Writer Pita Kuning, salah satu koordinator Pita Kuning membutuhkan relawan pendonor apheresis dengan golongan darah O+ untuk mendonorkan trombosit kepada Jane saat itu. Lantas, dengan cepat aku mengajukan diri untuk menjadi pendonor tersebut yang kemudian aku diarahkan segera menuju Rumah Sakit Dharmais dan melakukan test screening sebelum proses donor apheresis. Fyi, donor apheresis itu kita mendonorkan komponen darah yang dibutuhkan saja seperti Trombosit.

Setelah tiba di Rumah Sakit Dharmais, ternyata aku tidak sendiri melainkan ada pendonor lainnya yaitu Dieah ( Dieah adalah relawan pendamping Jane dari Pita Kuning). Akhirnya, kami berdua mendaftarkan diri ke bank darah untuk melakukan proses donor aphersis. Sayangnya, kami tidak bisa mendonorkan trombisit hari itu juga, karena proses screening memakan waktu yg cukup lama untuk mendapatkan hasilnya. Setelah selesai melakukan screening di laboraturium rumah sakit, aku dan Dieah menyempatkan diri untuk menengok Jane di lantai 4 bangsal anak. Ini adalah pertama kali aku melihat Jane.

Cantik, kata pertama yang terucap dalam hati ketika melihat Jane yang sedang asik menonton tv di ruangan rawat inap. Aku langsung menyapa Jane dan memperkenalkan diri, tapi nampaknya Jane masih canggung dengan kehadiran orang baru di sampingnya. Hanya sekitar 1-2 jam aku menemani Jane dan Mamanya, aku dan Dieah memutuskan pulang dan kembali lagi besok untuk mengecek hasil screening tadi siang.

Keesokan hari, tepat pukul 5.30 WIB, aku menerima pesa Whatsapp dari Papa Lula sebagai koordinator relawan pendonor apheresis di Rumah Sakit Dharmais. Papa Lula menyampaikan bahwa, aku harus segera ke Dharmais untuk melakukan donor trombosit agar Jane dapat segera melakukan transfusi karena Jane sedang mengalami pendarahan sejak dini hari. Berhubung aku harus pergi ke kantor terlebih dahulu, maka saat itu aku tidak bisa langsung ke Dharmais.

Saat jam makan siang, aku langsung buru-buru memesan ojek online ke Rumah Sakit Dharmais untuk melakukan donor trombosit. Setibanya di Dharmais sudah ada Dieah dan beberapa tim dari Pita Kuning. Ternyata kondisi Jane saat itu sudah sangat melemah dan kritis, Jane terus pendarahan melalui hidung dan karena Bank Darah full, maka aku harus menunggu giliran untuk melakukan donor. Aku coba naik ke lantai 4 untuk melihat Jane sebentar. Ternyata benar, Jane saat itu sedang duduk dan darah cair keluar terus menerus dari hidungnya. Aku langsung sedih, dengkulku saat itu sangat lemas, aku sangat merasa bersalah sekali kepada Jane.

Di samping Jane saat itu sudah ada pendeta dan Mama juga yang setia menemani. Aku hanya bisa berdiri saja melihat Jane yang terus mengeluarkan darah dari ke dua hidungnya saat itu. Hatiku miris, perih, sakit, sedih semua menjadi satu. Semua orang yang ada dalam ruangan Jane pesimis bahwa gadis cantik itu bisa bertahan lama. “Aku gak mau pake alat”, kata Jane, hatiku tambah hancur mendengar suara Jane yang lirih seperti itu. Penyesalanku semakin bertambah, mengapa tadi pagi aku tidak segera ke rumah sakit untuk memberikan trombositku ini. Air mata dan penyesalan lembur menjadi satu dalam ruangan itu, Jane mulai tidak sadarkan diri, Jane sepertinya sedang mengalami sakaratul maut. Aku benar-benar hancur melihat Jane.

Aku memutuskan keluar ruangan untuk menenangkan diri sejenak, dan mengumpulkan tenaga untuk menopang kakiku yang lemas. Aku  hanya bisa bersandar di dinding ruangan, hanya penyesalan yang ada dipikiranku, hanya nama Jane yang ada. Tuhan, aku begitu sakit melihat Jane seperti itu, banyak sekali dia mengeluarkan darah dan semua orang pesimis Jane bisa hidup lebih lama.

Saat aku sedang berada di luar ruangan, tiba-tiba Papa Lula memanggilku untuk turun ke Bank Darah dan melakukan donor apheresis. Pikiranku masih tidak tenang, Jane selalu menghantuiku.

Setelah selesai donor, aku memutuskan pulang ke rumah untuk menenangkan diri dan kembali lagi esok pagi untuk melihat Jane.

Pukul 10.00 WIB aku mendapatkan pesan dari group Relawan Content Writer Pita Kuning, “Innalilahi Wainnalilahi Rojiun”, dalam hatiku saat itu. Pesan yang menyampaikan bahwa Jane telah berpulang ke rumah bapak sejak pagi dengan tenang. Aku hanya bisa diam setelah membaca pesan tersebut. Rasa bersalah karena aku telat memberikan donor trombosit pada Jane semakin menghantui walau memang semua adalah takdir dari sang pencipta.

Akhirnya, trombosit yang aku donorkan kemarin tidak digunakankan oleh Jane, melainkan anak kanker lain yang membutuhkan. Sejak kepergian Jane, aku mendedikasikan trombosit serta sel darah yang aku miliki saat ini untuk penderita kanker dan aku bergabung dalam komunitas pendonor Apheresis Squad di Rumah Sakit Dharmais.

#IamAndIwillSupportAgainstCancer

Tulisan ini aku buat untuk mendukung Hari Kanker Sedunia dan aku kirimkan tulisan ini ke: https://www.harikankersedunia.com/

 

 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑