#worldcancerday2019: “You’ll forever be missed, Jane”

You’ll forever be missed, Jane“, kira-kira itu adalah kata yang aku ucapkan tepatnya pada 24 Januari 2018 saat Jane pergi meninggalkan dunia ini. Semua berawal ketika ada pesan Whatsapp yang masuk di group Relawan Content Writer Pita Kuning, salah satu koordinator Pita Kuning membutuhkan relawan pendonor apheresis dengan golongan darah O+ untuk mendonorkan trombosit kepada Jane saat itu. Lantas, dengan cepat aku mengajukan diri untuk menjadi pendonor tersebut yang kemudian aku diarahkan segera menuju Rumah Sakit Dharmais dan melakukan test screening sebelum proses donor apheresis. Fyi, donor apheresis itu kita mendonorkan komponen darah yang dibutuhkan saja seperti Trombosit.

Setelah tiba di Rumah Sakit Dharmais, ternyata aku tidak sendiri melainkan ada pendonor lainnya yaitu Dieah ( Dieah adalah relawan pendamping Jane dari Pita Kuning). Akhirnya, kami berdua mendaftarkan diri ke bank darah untuk melakukan proses donor aphersis. Sayangnya, kami tidak bisa mendonorkan trombisit hari itu juga, karena proses screening memakan waktu yg cukup lama untuk mendapatkan hasilnya. Setelah selesai melakukan screening di laboraturium rumah sakit, aku dan Dieah menyempatkan diri untuk menengok Jane di lantai 4 bangsal anak. Ini adalah pertama kali aku melihat Jane.

Cantik, kata pertama yang terucap dalam hati ketika melihat Jane yang sedang asik menonton tv di ruangan rawat inap. Aku langsung menyapa Jane dan memperkenalkan diri, tapi nampaknya Jane masih canggung dengan kehadiran orang baru di sampingnya. Hanya sekitar 1-2 jam aku menemani Jane dan Mamanya, aku dan Dieah memutuskan pulang dan kembali lagi besok untuk mengecek hasil screening tadi siang.

Keesokan hari, tepat pukul 5.30 WIB, aku menerima pesa Whatsapp dari Papa Lula sebagai koordinator relawan pendonor apheresis di Rumah Sakit Dharmais. Papa Lula menyampaikan bahwa, aku harus segera ke Dharmais untuk melakukan donor trombosit agar Jane dapat segera melakukan transfusi karena Jane sedang mengalami pendarahan sejak dini hari. Berhubung aku harus pergi ke kantor terlebih dahulu, maka saat itu aku tidak bisa langsung ke Dharmais.

Saat jam makan siang, aku langsung buru-buru memesan ojek online ke Rumah Sakit Dharmais untuk melakukan donor trombosit. Setibanya di Dharmais sudah ada Dieah dan beberapa tim dari Pita Kuning. Ternyata kondisi Jane saat itu sudah sangat melemah dan kritis, Jane terus pendarahan melalui hidung dan karena Bank Darah full, maka aku harus menunggu giliran untuk melakukan donor. Aku coba naik ke lantai 4 untuk melihat Jane sebentar. Ternyata benar, Jane saat itu sedang duduk dan darah cair keluar terus menerus dari hidungnya. Aku langsung sedih, dengkulku saat itu sangat lemas, aku sangat merasa bersalah sekali kepada Jane.

Di samping Jane saat itu sudah ada pendeta dan Mama juga yang setia menemani. Aku hanya bisa berdiri saja melihat Jane yang terus mengeluarkan darah dari ke dua hidungnya saat itu. Hatiku miris, perih, sakit, sedih semua menjadi satu. Semua orang yang ada dalam ruangan Jane pesimis bahwa gadis cantik itu bisa bertahan lama. “Aku gak mau pake alat”, kata Jane, hatiku tambah hancur mendengar suara Jane yang lirih seperti itu. Penyesalanku semakin bertambah, mengapa tadi pagi aku tidak segera ke rumah sakit untuk memberikan trombositku ini. Air mata dan penyesalan lembur menjadi satu dalam ruangan itu, Jane mulai tidak sadarkan diri, Jane sepertinya sedang mengalami sakaratul maut. Aku benar-benar hancur melihat Jane.

Aku memutuskan keluar ruangan untuk menenangkan diri sejenak, dan mengumpulkan tenaga untuk menopang kakiku yang lemas. Aku  hanya bisa bersandar di dinding ruangan, hanya penyesalan yang ada dipikiranku, hanya nama Jane yang ada. Tuhan, aku begitu sakit melihat Jane seperti itu, banyak sekali dia mengeluarkan darah dan semua orang pesimis Jane bisa hidup lebih lama.

Saat aku sedang berada di luar ruangan, tiba-tiba Papa Lula memanggilku untuk turun ke Bank Darah dan melakukan donor apheresis. Pikiranku masih tidak tenang, Jane selalu menghantuiku.

Setelah selesai donor, aku memutuskan pulang ke rumah untuk menenangkan diri dan kembali lagi esok pagi untuk melihat Jane.

Pukul 10.00 WIB aku mendapatkan pesan dari group Relawan Content Writer Pita Kuning, “Innalilahi Wainnalilahi Rojiun”, dalam hatiku saat itu. Pesan yang menyampaikan bahwa Jane telah berpulang ke rumah bapak sejak pagi dengan tenang. Aku hanya bisa diam setelah membaca pesan tersebut. Rasa bersalah karena aku telat memberikan donor trombosit pada Jane semakin menghantui walau memang semua adalah takdir dari sang pencipta.

Akhirnya, trombosit yang aku donorkan kemarin tidak digunakankan oleh Jane, melainkan anak kanker lain yang membutuhkan. Sejak kepergian Jane, aku mendedikasikan trombosit serta sel darah yang aku miliki saat ini untuk penderita kanker dan aku bergabung dalam komunitas pendonor Apheresis Squad di Rumah Sakit Dharmais.

#IamAndIwillSupportAgainstCancer

Tulisan ini aku buat untuk mendukung Hari Kanker Sedunia dan aku kirimkan tulisan ini ke: https://www.harikankersedunia.com/

 

 

Advertisements

Berburu Jajanan Legendaris di Pasar Glodok

Es Kopi Tak Kie

Renca hanya lah rencana, udah beberapa waktu lama pengen banget ke Es Kopi Tak Kie. Sebenernya sempat sekali ke tempat es kopi legendaris ini, ternyata Es Kopi Tak Kie sudah tutup jam 12 siang.

PSX_20180803_171348

 

Es kopi tak kie ini memang menjadi kuliner legendaris di Jakarta, tepatnya Pasar Glodok. Tempat ini berdiri sejak tahun 1927 atau sekitar 91 tahun lalu sudah menyajikan minuman es kopi yang melegenda.

Tidak perlu kaget ketika kamu datang ke tempat ini dan melihat banyak chinese yang memenuhi meja makan saat itu. Kawan Glodok memang banyak dihuni oleh para chinese sejak dulu. Bagi muslim, kamu hanya bisa menikmati minnumannya saja karena makanan yang disediakan semua non halal.

PSX_20180809_180329

PSX_20180803_171510

Soto Tangkar, Pasar Glodok

Maju sedikit dari tempat Es Kopi Tak Kie, kamu akan menemukan seorang kakek pedagang soto tangkar dengan grobak tua. Beliau berjualan dari jam 7 pagi hingga menjelang siang sampai semua soto yang djiual habis oleh pembeli.

Kalau ditanya nama soto tangkar ini, sebenernya gak ada namanya sih haha

PSX_20180803_171636

PSX_20180810_094832

Pizza Place: “A Slice of Heaven”

Setelah berselancar di Instagram, nggak sengaja nemuin post seorang hijab designer ternama Indonesia. Dalam postnya dimemegang saru slice pizza besar yang akan segera masuk ke dalam mulutnya. Sepertinya memang terlihat lezat dan ditambah caption yang begitu meyakinkan bahwa salah satu tempat menjual pizza ini menjadi toko pizaa paling enak di Jakarta.

Pizza apa sih? Berada di kawasan Kemang Timur, Pizza Place kini menjadi tempat paking dicari oleh para pencinta pizza di Jakarta.  Toko pizza ini hanya mejual pizza dalam potongan slice saja. Walaupun hanya satu slice yang dijual, tetapi ukuran pizza ini akan membuat kamu kenyang banget sih.

IMG_2255

Pizza place sendiri terkenal sebagai salah satu pioneer a true New York Pizza di Jakarta, khususnya Jakarta Selatan. Toko ini tidak memiliki tempat yang besar seperti penjual pizza lainnya, hanya dapur kecil dan meja bar saja yang tersedia di Pizza Place. Walau hanya berukuran kecil, toko yang berada di pojok gedung Como Park ini selalu ramai dikunjungi para peminatnya.

Untuk interiornya sendiri memang Pizza Place berkiblat pada toko-toko pizza yang berada di New York. Lucunya lagi, disepanjang dinding toko dihiasi dengan piring kertas yang digunakan sebagai wadah pizza

a50c1368-2d38-4bcd-ae08-f6e5ce3f3578

Buat rasa pizzanya?

Hmm.. kalo masalah rasa sih ya gak perlu diragukan deh. If you craving for pizza, you should come to this place.

 

Pizza Place
Commo Park
Jl. Kemang Timur No.998, RT.1/RW.3, Bangka, Mampang Prpt
Kota Jakarta Selatan, Jakarta 12730

Marufuku Authentic Japanese Restaurant at Little Tokyo, Jakarta

Craving for japanese food? Don’t worry, I have the right answer for you, it’s Marufuku Japanese Restaurant. Marufuku located in Melawai, South Jakarta inside from Blok M Square near from Boutique Hotel. This area is called Little Tokyo and you will find a lot of Japanese restaurants and one of them is Marufuku.

20180721_212623
Gyoza
20180721_213926
Curry Rice
20180721_212406
Aburi Salmon Roll with Avocado

What about the ambience inside the restaurant? When you open the door, you will feel closely like in Japan.  It was cozy and authentic décor like the original Japanese Restaurant. But, I forgot to take pictures of the room.

20180721_214001

20180721_211800

 

Address:

Marufuku
Jalan Melawai 6 No.11, Blok M
Kebayoran Baru,  Jakarta Selatan,
Jakarta 12160

Website
http://marufukujakarta.com/

 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑