Warung Mbok Yem, Warung Legendaris di Atas Puncak Gunung Lawu

Mbok Yem bukan nama yang asing untuk para pendaki gunung lawu. Jika kamu pernah mendaki gunung lawu hingga puncak, maka kamu akan berpapasan dengan Warung Mbok Yem. Wanita yang memiliki nama asli Wakiyem ini memiliki sebuah warung yang di dirikan di atas Gunung Lawu, warung tersebut sudah berdiri sejak tahun 1980-an.

Gunung Lawu sendiri memiliki ketinggian 3265 mdpl dengan jalur pendakian yang cenderung kurang cocok untuk pemula karena didominasi bebatuan dan kurang nyaman untuk dijejaki. Warung Mbok Yem berdiri tegak dekat dengan salah satu puncak Gunung Lawu yaitu Puncak Hargo Dumila. Warung Mbok Yem sudah menjadi cerita legendaris untuk para pendaki gunung.

Warung Mbok Yem ini menyediakan makanan dan minuman untuk para pendaki yang beristirahat sebelum atau sesudah mencapai puncak hargo dumila. Untuk makanan, menu favorit di Warung Mbok Yem adalah nasi soto dan sego pecel, tidak hanya itu para pendaki juga bisa memesan nasi telor, gorengan atau Indomie. Untuk masalah harga makanan dan minuma di warung mbok yem terbilang ekonomis untuk ukuran sebuah warung yang berada di atas Gunung yakni kurang lebih 10.000/porsi.

Jika kamu bertanya-tanya, “Apakah mbok yem mendaki gunung setiap hari dan turun setiap hari untuk pulang ke rumah?”. Jawabannya adalah, Mbok Yem hanya turun gunung tiga kali dalam satu tahun. Beliau pulang ke rumah hanya pada saat Idul Fitri dan ketika ada keluarga yang memiliki hajat atau hari-hari besar. Untuk pasokan dapur dan bahan makanan, Mbok Yem menyatakan bahwa selalu ada orang yang mengirim bahan makanan ke warungnya, tiga kali dalam seminggu.

Jika kamu mendaki gunung lawu, jangan lupa mampir ke warung mbok yem ya!

Yuk Wisata Keliling Ibukota Dengan Bus Tingkat!

Wisata keliling ibukota? Pernah terfikir untuk wisata murah keliling kota Jakarta, menikmati ramainnya Ibukota, memandangi gedung pencakar langit yang berjejer di Ibukota? Tidak banyak mungkin yang berfikir untuk mencoba berwisata keliling Ibukota. Alasannya klasik, macet, sudah terlalu mainstream dan cuma itu-itu aja.

Justru, wisata keliling Ibukota adalah hal yang jarang ditemui khususnya di Jakarta sendiri. Pasalnya, para penduduk Jakarta lebih memilih untuk menikmati kota lainnya dibanding untuk mencoba menelusuri sedikit saja keunikan Ibukota.

Belakangan ini Pemprov DKI menyediakan layanan Jakarta Bus City Tour wisata keliling Jakarta, gratis. Usaha ini adalah salah satu bentuk dukungan Pemprov DKI dalam  mendorong wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia.

Penasaran ingin berwisata keliling Ibukota? Jangan khawatir, kamu hanya cukup menunggu di halte yang bergambar bus tingkat dan bertuliskan city tour atau kamu bisa lihat jadwal serta jalur pemberhentian bus tingkat city tour berikut:

Jadwal dan Jam Operasional Jakarta Bus City Tour:

Hari Senin – Sabtu: Jam 09.00 pagi – 19.00 malam

Hari Minggu: Jam 12.00 siang – 19.00 malam

Rute dan Jalur Pemberhentian Jakarta Bus City Tour:

Hari Senin – Jumat (9 halte): Halte Bundaran (HI) Hotel Indonesia – Halte Museum Nasional – Halte Pecenongan – Halte Pasar Baru – Halte Masjid Istiqlal – Halte Monas 1 – Halte Monas 2 – Halte Balai Kota – Halte Sarinah.

Hari Sabtu – Minggu (5 halte): Halte Bundaran (HI) Hotel Indonesia – Halte Museum Nasional – Halte GKJ Sarinah – Halte Masjid Istiqlal (Monas 1), Halte Balai Kota (Monas 2)

Menarik bukan menaiki bus tingkat dengan memandangi Ibukota yang metropolis. Sudah banyak lho wisatawan asing dan lokal yang mencoba. Bagaimana dengan kamu?

Foto featured oleh jakartatraveller.com

Site Visit Busway, Jalan-Jalan Seru Keliling Ibukota ala Transjakarta

Apa sih site visit busway? Sebenarnya, site visit busway adalah event dimana warga Jakarta diajak untuk mengunjungi tempat-tempat menarik di Ibukota dengan menggunakan Transjakarta sebagai moda transportasi.

Selama ini, banyak penggunakan Transjakarta tidak sadar bahwa jalur yang mereka lewati banyak menyimpan cerita. Misal saja jalur koridor 1 yang memiliki banyak tempat unik untuk dikunjungi, seperti Stadion Gelora Bung Karna, Museum Nasional , Kawasan Pecinan Glodok dan Kawasan Kota Tua.

Baru-baru ini juga PT. Transjakarta telah meluncurkan armada terbarunya yaitu Transjakarta “Vintage Series” . Selain kamu bisa merasakan suasan jadul di dalam bus ini, kamu juga bisa mampir ke beberapa obyek wisata di Ibukota menggunakan Transjakarta “Vintage Series” . Saat ini, bus yang hanya tersedia dua armada di Jakarta sudah bisa kamu nikmati, ditambah dengan klakson telolet yang menambah keseruan saat menaiki bus “Vintage Series

Pada Sabtu, 28 Januari 2017 kemarin Site Visit Busway baru saja menyelesaikan event dengan tema “Passer Baroe” . Disini para peserta  diajak berkeliling Ibukota menggunakan bus jadul dari PT. Transjakarta.

Para peserta yang beruntung diajak menaiki bus Transjakarta “Vintage Series” secara gratis. Tidak hanya itu mereka juga diajak mengunjungi beberapa tempat wisata seperti Pasar Baru, Klenteng Sin Tek Hio, Masjid Istiqlal, Gedung Antara hingga wisata kuliner di Gang Kelinci.

Lewat acara ini, selain para peserta dapat mengunjungi beberapa obyek wisata diharapkan juga sdapat terbiasa menggunakan transportasi publik untuk kebutuhan transportasi.

Jika kamu ingin merasakan atau bergabung dalam acara Site Visit Busway selanjutnya, kamu bisa memfollow akun instagramnya di @sitevisitbusway.

Cak Speck si Pendaki Dengan Atribut Serba Pink

Pendaki gunung selalu identik dengan gayanya yang cowok abis, bahkan banyak yang berfikir jika seorang pendaki gunung adalah sosok yang diidam-idamkan untuk menjadi pasangan. Kenapa? Karena jiwa petualang mereka yang selalu menjadi nilai plus di mata orang lain.

Tetapi, berbeda dengan pendaki gunung yang satu ini. Pendaki yang akrab disapa Cak Speck ini mematahkan pikiran kamu jika pendaki gunung itu cowok abis. Cak Speck adalah salah satu anggota Pink Hikers Indonesia sejak tahun 1996, sebelum sampai saat ini ia dikenal oleh banyak orang.

Bukan tidak ada alasan Cak Speck mengenakan atribut serba pink saat melakukan pendakian disetiap gunung. Dari pesan singkat Cak Speck bercerita tentang asal mula warna pink menjadi bagian dirinya selama pendakian. Saat itu Cak Speck bersama 12 teman pendakiannya melakukan pendakian ke Gunung Argopura, mereka terpisah dan tersesat selama 12 hari di Gunung Argopuro. Selama pencarian, jika bertemua dengan pendaki lain Cak Speck dan teman lainnya selalu bertanya apakah mereka melihat temannya yang tersesat saat itu. Tetapi, tidak ada satu pun pendaki yang melihat rekan pendaki yang tersesat tersebut.

Singkat cerita ketika mereka semua sudah berkumpul, Cak Speck mengatakan,” Besok kalo mau mendaki kita pake warna pink aja, jadi kalo hilang nanti pas nanya dengan pendaki lain supaya lebih mudah”. Dari perbincangan itu lah Cak Speck memulai pendakian dengan menggunakan atribut serba pink.

Terlepas dari penampilannya yang unik dan lucu, ternyata Cak Speck adalah pendaki senior yang sudah memulai pendakiannya sejak 20 tahun yang lalu. Jadi, jika kamu berfikir Pink Hikers Indonesia adalah pendaki kekinian kamu salah banget.

cakspeck1

Cak Speck, Pink Hikers Indonesia

Lalu bagaimana dengan atribut serba pink? Cak Speck menjelaskan saat ini dirinya memang mengoleksi segala perlengkapan pendakian berwarna pink. Dari tenda, sleeping bag, baju, perlengkapan makan, tas hingga pakaian dalam pun berwana pink. Hanya saja untuk sepatu gunung Cak Speck belum menemukan toko outdoor yang menjual sepatu berwarna pink.

Saat ini Cak Speck juga tengah mempersiapkan dirinya untuk melakukan pendakian ke Gunung Cartenz, dimana gunung tersebut adalah satu-satunya gunung di Indonesia yang belum pernah ia taklukan.

Penasaran dengan sosok Cak Speck si pendaki pink ini? Jika kamu beruntung bertemu mereka para Pink Hikers Indonesia, jangan lupa untuk meminta foto bersama mereka ya.