#MainSebentar: Menunggu Senja di Pantai Pasir Perawan

Pagi itu stasiun masih nampak terlihat sepi dan tenang dari para penumpang. Pukul 05.00 saya sudah berada di Stasiun Tanah Abang untuk menunggu commuter line jurusan Stasiun Angke. Ya, weekend ini saya berencana untuk pergi ke Pulau Pari, Kep. Seribu.

Untuk bisa menyebrang ke Pulau Pari, kita harus terlebih dahulu membeli tiket kapal penyebrangan di Dermaga Muara Angke. Kamu bisa menggunakan transportasi commuter line dengan jurusan Stasiun Angke setelah itu berganti dengan ojek online atau ojek pangkalan.

Tiba di Dermaga Muara Angke, saya langsung mengantri diloket tiket karena memang saat itu ramai sekali dengan para wisatawan yang ingin menyebrang ke beberapa pulau di Kepulauan Seribu. Untuk tiket penyebrangan ke Pulau Pari saat ini dikenakan tarif sebesar Rp 40 ribu setiap orangnya, dan biaya retribusi masuk sebesar Rp 2 ribu saja.

Kapal yang sudah mulai dipenuhi oleh wisatawan mulai berangkat pukul 08.00 WIB. Karena ini bukan pengalaman pertama saya menyebrangi Pulau Seribu sehingga saya lebih memilih untuk tidur disepanjang penyebrangan.

Penyebrangan dari Dermaga Muara Angke hingga Pulau Pari memakan waktu kurang lebih 3 jam dan tepat pukul 11.00 kapal mulai bersandar di dermaga Pulau Pari. Bergegas turun dari kapal, ternyata dua orang teman saya sudah menunggu di dermaga untuk menjemput saya dan mengantarkan ke penginapan.

Siang itu saya hanya menikmati udara pantai sambil bermain hammock di Pantai Bintang. Saya memilih untuk bersantai di Pantai Bintang karena memang tempat ini tidak terlalu ramai oleh pengunjung, selain itu suasana yang sejuk membuat saya betah berlama-lama di pantai ini.

Selain bersantai, di Pantai Bintang ini kamu juga bisa membuat berbagai acara bersama teman-teman atau keluarga, karena memang pantai ini cukup luas dan bersih. Jika kamu seorang backpacker, tempat ini cocok untuk kamu mendirikan tenda. Untuk selalu menjaga kebersihan, kamu akan dikenakan biaya Rp 2 ribu sebelum memasuki Pantai Bintang.

IMG_7761
Pantai Bintang, Pulau Pari

Puas menikmati angin pantai dan bersantai di hammock, saya kembali pulang ke penginapan untuk makan siang yang kemudian dilanjutkan berbincang dengan ke dua teman saya dan pemilik penginapan.

Tidak terasa, obrolan kami sudah memakan waktu hingga pukul 16:00 WIB. Saya langsung bergegas menyiapkan sepeda untuk pergi menikmati sunset di Pantai Pasir Perawan. Ya, Pantai Pasir Perawan ini memang salah satu spot terbaik di Pulau Pari untuk menikmati tenggelamnya matahari.

Pantai Pasir Perawan ini memiliki pasir sangat putih dan air pantai yang tenag. Dipingir pantai  terdapat banyak gazebo untuk kamu bisa menikmati keindahan pantai ini. Tidak hanya itu, jika air pantai sedang suruk, kamu bisa melewati pantai satu ke pantai lainnya dengan berjalan kaki, tapi jika air sedang pasang saat itu, terpaksa kamu akan basah-basahan untuk melewatinya.

Saya hanya duduk-duduk di pinggir pantai untuk menunggu matahari perlahan terbenam. Rasanya teduh, senja mulai terbenam dan saya hanya menikmatinya perlahan.

IMG_8244
Senja di Pantai Pasir Perawan

Saya jadi ingat tentang kutipan senja yang begitu saya suka, mungkin seperti ini  bunyinya, “Ada orang pernah bilang bahwa mengapa senja selalu menyenangkan. Kadang senja itu berwarna hitam, kelam, kadang dia merah merekah. Tapi, langit selalu menerima senja apa adanya”

Menikmati Waktu Singkat di Kota Gudeg

Lagi-lagi, perjalanan kali ini sama sekali bukan perjalanan yang kami rencanakan sejak berbulan-bulan lalu. Awalnya, saya diajak oleh salah satu teman permainan untuk mengunjungi kerabatnya di Solo, Jawa Tengah. Singkatnya, setelah kunjungan kami ke Solo, kami melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta hanya untuk menghabiskan sisa weekend yang sayang untuk dilewati.

Sebelumnya, kami berangkat dari Jakarta menggunakan kereta api yang diberangkat dari Stasiun Pasar Senen pada sore hari dan tiba di Stasiun Jebres Solo pada tengah malam hari. Setelah teman saya selesai dengan urusannya, kami berpikir untuk menghabiskan weekend di Yogyakarta. Kami diantar menggunakan mobil pribadi dari Solo ke Jogja.

Sampainya di Jogja, kami sudah memiliki beberapa list tempat yang ingin dikunjungi dengan waktu yang sangat singkat. Mulai dari Gumuk Pasir Parangkusumo, Pantai di Gunung Kidul, Taman Pinus, Gelato, Ratu Boko, Taman Sari, Alun-alun Kidul, Angkringan Joss, Sop Pak Min. Tapi sayang, kami hanya bisa mengunjungi beberapa tempat dari list yang kami kantongi.

Hutan Pinus Imogiri Mangunan menjadi tempat pertama yang kami kunjungi saat berada di Jogja. Pohon-pohon yang menjulang tinggi membuat tempat ini terasa begitu asri dan menjadi spot foto yang sangat instagrammable untuk para wisatawan.

Selain memiliki pohon-pohon pinus yang tinggi, hutan ini juga memiliki panggung terbuka yang bisa digunakan untuk acara tertentu. Agar bisa masuk ke dalam kawasan Hutan Pinus Imogiri, kamu hanya akan membayar tiket parikir saja. Untuk parkir motor hanya dipungut biaya Rp 3 ribu, sedangkan mobil Rp 10 ribu dan untuk parkir bis dikenakan biaya sebesar Rp 20 ribu.

imogiri
Hammock di Hutan Pinus Mangunan Imogiri

Melanjutkan perjalanan singkat ini, kami langsung saja menuju ke Candi Ratu Boko untuk menyingkat waktu. Ratu Boko memang sedang menjadi primadona di Yogyakarta setelah tempat ini dijadikan lokasi shooting AADC 2.

Saat itu, kami mengunjungi Candi Ratu Boko pada siang hari dan ini adalah waktu yang sangat tidak direkomendasikan jika ingin menikmati Ratu Boko. Menelisik kembali sejara Candi Ratu Boko, sebenarnya asal tempat ini bukanlah benar-benar sebuah candi melainkan sebuah istana atau keraton. Rerentuhan keraton ini dulunya diyakini sebagai tempat seorang raja Mataram yang bernama Ratu Boko.

Terlepas dari sejarah tersebut, tiket yang dijual agar dapat masuk ke dalam situs sejarah ini cukup mahal kami pikir. Kamu akan dikenakan biaya sebesar Rp 20 ribu untuk sekedar menikmati sisa-sisa reruntuhan keraton Ratu Boko ini. Di dalamnya sama sekali tidak ada papan info yang menjelaskan letak ataupun sedikit sejarah atau bahkan asal muasal tempat ini.

IMG_9511
Candi Ratu Boko

Jadi, supaya kunjungan kalian tidak sia-sia ke Ratu Boko, baca terlebih dahulu sejarah yang ada karena di sana tidak akan ditemukan papan informasi sejarah. Pemilihan waktu juga menjadi peran penting saat mengunjung Ratu Boko, kamu bisa pergi di pagi atau sore hari sembari menikmati senja di keraton ini.

Jogja saat itu terasa sangat panas dan terik sekali, tapi kami kembali semangat setelah melihat list tempat yang harus dikunjungi selanjutnya adalah Tempo Del Gelato . Yes, waktunya menikmati gelato diteriknya Yogyakarta siang itu.

Tempo Del Gelato ini adalah salah satu tempat yang paling pas untuk menikmati es krim rumahan khas Italia di Yogyakarta yang berlokasi di Jl. Prawirotaman No. 43. Ternyata tempat ini sudah ramai sebelum kami datang dan hampir saja kami kehabisan karena banyak sekali pengunjung yang datang.

Ada beberapa varian gelato yang ditawarkan seperti rasa buah-buahan dan juga beberapa rasa passion seperti coffee, salted, caramel, coffee caramel, cinnamon, jahe, dan masih banyak lainnya. Untuk harga gelato masih terbilang murah jika dibandingkan dengan rasanya. Ada dua pilihan yang bisa kamu pesan yaitu, ice gelato cone dibandrol dengan harga Rp 25 ribu sedangkan untuk gelato cup Rp 20 ribu ukuran small dengan 2 jenis flavors lalu, Rp 40 ribu untuk cup medium dengan 3 flavors dan ukuran big seharga Rp 65 ribu dengan 4 flavors.

Rasanya cukup puas menikmati gelato di tanah jawa yang membuat kami malas untuk segera meninggalkan tempat ini. Mau tidak mau kami harus segera bergegas pergi ke stasiun untuk mengejar kereta sore ini. Keluar dari toko Tempo Del Gelato, kamu akan menemukan beberapa toko post card yang dapat kamu beli untuk menambah koleksi post card kamu. Untuk harga satu post card kisaran Rp 15 ribu – Rp 25 ribu.

Yap, berakhir sudah perjalanan singkat kami selama di Jogja. Tentunya berkeliling Jogja bukan suatu hal yang membosankan terlebih  jika kita pergi bersama orang yang tepat. Jogja selalu memberikan cerita-cerita yang berbeda walau tempat ini sering kali dikunjungi. See until we meet again, Jogja!

Keliling Cirebon: 12 Jam Perjanalan Menuju Kota Udang

Tepat pukul 07.30 pagi saya sudah berdiri dipintu keluar Terminal Kampung Rambutan. Saat itu terminal terlihat cukup ramai oleh para penumpang yang menunggu bis dijalur keluar terminal. Hampir saja lupa, ternyata hari ini adalah libur long weekend Maulid Nabi SAW yang digunakan para perantau untuk kembali ke kota asal masing-masing.

Saya? Sebenarnya saya memiliki rencana awal untuk menikmati long weekend di Kota Garut, tetapi karena waktu yang sudah sangat mepet serta transportasi yang terbatas di Kota Garut membuat saya harus mencari pengganti tempat liburan.

Cirebon, kota yang masih  terjangkau jika ditempuh menggunakan kereta api atau bahkan bis dari Jakarta. Lagi-lagi, karena semua ini serba dadakan akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan bis dari Terminal Kampung Rambutan menuju Cirebon.

Sebelumnya saya sempat mencari informasi mengenai harga tiket bis Jakarta-Cirebon diinternet, harga yang cukup standard untuk bis ekonomi sekitar Rp 50 ribu dan Rp 80 ribu untuk AC. Bergegas menaiki bis, ternyata bis yang saya naiki ini adalah bis ekonomi PO Setia Negara yang saat itu satu-satunya bis jurusan Cirebon yang akan segera berangkat.

Bis pun ternyata berjalan perlahan untuk tetap mengumpulkan penumpang hingga penuh. Tidak terasa satu per satu penumpang mulai memenuhi bis ekonomi yang mulai sesak ini. Semua penumpang terlihat membawa barang bawaan yang cukup banyak, fikir saya mereka akan pulang ke kampung halaman di Cirebon dan sekitarnya.

Saya mulai menikmati setiap perjalanan ini, dari mulai musik dangdut yang diputar sepanjang perjalan dengan volume yang cukup keras ditelinga, lalu tol yang mulai padat tak bergerak di Bekasi hingga sesak dan panasnya keadaan bis PO Setia Negara ini. Hampir lupa, tarif yang dikenakan bis Jakarta-Cirebon PO Setia Negara ini adalah RP 80 ribu untuk bis ekonomi. Saya rasa ini harga yang terlalu mahal untuk bis ekonomi ini, tapi ya sudah karena memang hanya ada bis ini satu-satunya.

Perjalanan mulai membosankan saat saya terjebak macet yang luar biasa di dalam tol. Tidak heran memang karena ini adalah long weekend dan semua orang melakukan perjalanan yang sama seperti saya.

Sampai akhirnya pukul 19.00 saya mulai memasuki Kota Cirebon dan memutuskan untuk turun di Kedawung dan meneruskan perjalanan menggunakan angkot GP menuju Hotel Aurora Lama Cirebon. Sedikit review untuk Hotel Aurora Lama, hotel yang berada di Jl. RA Kartini ini sangat strategis. Kalian bisa berjalan kaki sekitar 500 m ke Alun-alun Cirebon, kemudian di belakang hotel kalian bisa menikmati makanan kuliner Nasi Jamblang Bu Nur. Tidak hanya strategis, tetapi fasilitas dan harga juga tidak perlu diragukan, menginap semalam di hotel ini mulai dari Rp 180 ribu.

Menikmati Kota Cirebon yang menjadi simpul pergerakan transportasi antara Jawa Barat dan Jawa Tengah membuat kota ini terlihat sibuk. Dihari kedua ini, saya mencoba untuk memulai dengan menikmati sarapan khas Cirebon yaitu Nasi Jamblang Bu Nur. Tidak disangka, baru pukul 09.00 pagi tempat makan ini sudah penuh dengan wisatawan lokal.

Nasi Jamblang Bu Nur ini terletak di Jl. Cangkring II No. 34 atau tepat berada di belakang Hotel Aurora. Ternyata tidak hanya menjual nasi jamblang, persis di depannya terdapat tempat makan “Empal Gentong, Empal Asem, Nasi Lengko & Sate Kambing Muda Ibu Nur”. Tentu saja saya memesan seporsi nasi lengkong yang terlanjut membuat penasaran. Sarapan pembuka yang nikmat, seporsi nasi lengko nikmat dengan harga Rp 15 ribu.

IMG_9154

Setelah selesai menikmati sarapan khas Cirebon, saya memulai perjalanan ke Keraton Kasepuhan Cirebon. Jarak dari warung makan bu nur ke Keraton Kasepuhan cukup dekat dan tidak macet. Untuk masuk ke dalam Keraton Kasepuhan, kalian akan dikenakan tiket dengan tarif Rp 15 ribu per orangnya.

Hampir saja lupa, saya menyewa motor untuk berkeliling selama di Cirebon dengan tarif Rp 75 ribu per harinya dan diantar ke hotel tempat saya  menginap.

Melanjutkan perjalanan, saya lanjut mengunjungi Taman Sari Gua Sunyaragi yang juga jaraknya tidak terlalu jauh dari Keraton Kasepuhan ini. Taman Sari Gua Sunyaragi atau Gua Sunyaragi memang berada di tengah Kota Cirebon sehingga sangat mudah sekali untuk diakses. Awalnya gua ini didirikan sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon serta sanak keluarganya. Agar bisa masuk ke dalam Gua Sunyaragi, kalian harus membeli tiket dengan harga Rp 10 ribu saja sudah termasuk es  teh tawar gratis.

IMG_9555
Goa Sunyaragi, Cirebon

Saat itu cuaca di Cirebon tidak begitu terik sehingga saya melanjutkan perjalanan ke Telaga Biru Cicerem. Tempat wisata yang satu ini sebenarnya terletak di Desa Kaduela, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan. Dari Gua Sunyarari hanya membutuhkan waktu sekitar 48 menit jika ditempuh menggunakan motor.

Tepat di bawah kaki Gunung Ciremai, telaga yang memiliki ke dalaman sekitar 5 meter dengan air jenih biru kehijauan ini seketika menyihir lelah saya berkendara. Jika dilihat, telaga ini begitu sejuk karena dikelilingi oleh pohon-pohon besar ditambah ikan yang berwarna-warni menghiasi telaga Cicerem ini. Harga tiket untuk menikmati sejuknya telaga Cicerem hanya Rp 5 ribu per orangnya.

IMG_9549

IMG_9197
Telaga Biru Cicerem

Puas menikmati telaga Cicerem, saya memutuskan kembali ke hotel untuk beristirahat dan melanjutkan wisata kuliner malam harinya disepanjang Jl. RA Kartini dan Alun-alun Cirebon yang berada deket dengan hotel. 

Dalam perjalanan kembali ke hotel, saya mampir di Pusat Batik Trusmi untuk mencari batik dan krupuk udang di pasar tersebut.

Sebenarnya, masih banyak tempat yang dapat dikunjungi saat berada di Cirebon tetapi karena ini hanya keisengan semata saat long weekend dan tidak mempersiapkan list tempat wisata.

Semoga sedikit cerita dari perjalanan singkat saya ini bisa memberikan informasi yang bermanfaat bagi para pembaca.

Cirebon jeh!

Gue Pengen Museum di Jakarta, Jadi Candu Bak Cinta Pertama

Sejatinya, jatuh cinta adalah hak semua orang untuk merasakannya. Kita tidak pernah bisa menahan atau mengontrol seseorang untuk jatuh cinta. Terlebih, jatuh cinta itu bisa kita rasakan pada siapa pun.

Jatuh cinta rasanya memang nikmat, kamu tidak merasakan gelisah sedikit pun, rasanya seperti ada kupu-kupu yang terbang dalam perutmu. Apalagi ketika cinta itu sudah menjadi candu, maka tidak ada hal negatif sedikit pun yang akan merusak perasaan cinta itu.

Ini seperti yang dirasakan ketika pertama kali mengunjungi salah satu museum di Jakarta. Terlihat kuno memang dijaman millennial seperti ini masih saja menjadikan museum sebagai tujuan tempat wisata.

Mungkin kamu tidak akan merasakan sensasi masuk ke dalam gedung tua, kemudian hanya berjalan dan melihat-lihat koleksi yang ada di museum. Biasa saja memang, tidak kekinian, tidak hits, tidak menyenangkan untuk dikunjungi.

Tapi coba kamu perlahan jalan, menyusuri setiap sudut museum yang ada di Jakarta. Pertama-tama, mungkin kamu akan sedikit menyesuaikan mood untuk membaca papan info atau sekedar mendengarkan tour guide berbicara. Rasanya sama, ketika kamu baru pertama kali bertemu dengan dia yang biasa saja.

Lama kemudian kamu menyusuri setiap sudut museum, perlahan-lahan kamu akan larut dengan suasana museum, kamu mulai membayangkan cerita-cerita kuno jaman penjajahan, mulai merasuk ke dalam bagian peninggalan sejarah. Ini yang akan kamu rasakan ketika sudah mulai jatuh cinta pada dia, kamu akan masuk dan larut dalam pikirannya.

Disini, kamu akan mulai menemukan keunikan dan sesuatu yang belum pernah kamu temukan sebelumnya dijaman millennial sekarang ini. Kamu mulai mengetahui sejarah-sejarah yang pernah ada, kamu merasakan perjuangan-perjuangan pahlawan yang sudah gugur, kamu mulai menghargai peninggalan-peninggalan sejarah.

Terus berjalan, ternyata semakin banyak kisah menarik yang kamu temukan, dan semakin membuat kamu penasaran oleh sisa cerita sejarah itu. Ternyata, berjalan seharian di museum akan membuat kamu merasa menemukan sesuatu yang bermanfaat dan tidak semua orang menemukannya. Berjalan semakin dalam menyusuri lorong setiap museum, kamu semakin dibuat penasaran oleh sisa cerita sejarah yang tersusun rapih di papan info.

Begini rasanya jatuh cinta mengenal dan mengetahui sejarah yang tersisa. Rasanya spesial, hanya kamu yang mau menjelajahi museum dengan segala ceritanya. Kamu mulai banyak memahami sisa-sisa sejarah, mulai mengerti mengapa jatuh cinta itu candu. Semakin kamu masuk dan mengenal, maka kamu akan semakin jatuh cinta.

Mengunjungi museum tidak hanya digunakan sebagai kegiatan wisata saja, tetapi kamu akan mendapatkan ilmu yang bisa kamu ceritakan pada siapa pun nantinya. Tentunya, pengalaman mengunjungi museum menjadi kesenangan tersendiri yang tidak bisa diungkapakan sebelum kamu memulai dan merasakan memasuki lorong waktu dengan berwisata ke museum.

Banyak sekali museum di Jakarta yang bisa membuat kamu jatuh cinta sesaat, salah satunya adalah Museum Taman Prasasti. Museum Taman Prasasti adalah salah satu museum yang terletak di tengah Ibukota. Sebuah museum cagar budaya peninggalan jaman kolonial Belanda ini akan membuat kamu merasakan jatuh cinta pertama kalinya pada museum.

Bagaimana tidak, museum ini memiliki koleksi prasasti nisan kuno pada jaman Belanda. Tidak hanya itu, museum ini juga memiliki koleksi kereta jenazah antik di dalamnya.

Selanjutnya, yang bisa membuat kamu jatuh cinta adalah Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Gedung ini adalah satu-satunya saksi mata perumusan naskah proklamasi bangsa Indonesia pada 16-17 Agustus 1945.

Museum ini sedikitnya menceritakan  kejadian Pra Proklamasi hingga pengetikan teks proklamasi pada saat itu. Banyak sekali cerita sejarah yang akan kamu temukan dalam museum ini.

museum proklamasi_2
Ruanga Pertemuan Bung Karno, Bung Hatta, Ahmad Soebardjo dengan Laksamana T. Maeda ( Foto: http://www.masvay.com/2016/08/djelajah-museum-museum-perumusan-naskah.html

Jadi, jatuh cinta memang tidak bisa dihindari dan ditolak. Kamu hanya bisa mengikuti alurnya yang semakin dalam membuat rasa penasaran memuncak hingga kamu jatuh di dalamnya.

Sama seperti kamu memutuskan untuk pergi ke museum. Awalnya memang tidak ada rasa ketertarikan, tapi mulai memasuki gedung museum kamu akan merasakan sesuatu yang berbeda hingga akhirnya kamu larut pada cerita sisa sejarah yang membuat adiksi untuk terus mencari cerita sejarah lainnya.

Semoga kamu bisa menemukan sesuatu yang berbeda saat kamu mengunjungi museum. Datanglah dan rasakan apa yang akan kamu temukan di sana.

Spiegel Bar & Bistro, Gedung Antik Nan Romantis ala Eropa di Kota Lama

Gedung yang didirikan pada tahun 1895 nyatanya kini masih berdiri kokoh dengan segala kharismatik serta kesan kuno yang tidak pernah luntur. Gedung yang sangat kental dengan nuansa Eropanya ini membuat siapa pun yang berkunjung akan lupa bahwa gedung ini berdiri di tanah Jawa tepatnya di kawasan Kota Lama Semarang.

Menghabiskan weekend di Semarang memang suatu hal yang menyenangkan bagi saya. Jarak yang ditempuh dari Ibukota menuju Semarang juga masih terbilang singkat, karena jika kamu menggunakan kereta api hanya memakan waktu sekitar 6 jam saja.

Spigel Bar & Bistro berada persis di samping Gereja Belenduk dan Semarang Art Gallery. Kesan mewah nampak terlihat dari susunan botol wine dan meja yang tertata rapih dari beningnya kaca gedung ini. Dengan segala rasa penasaran saya, akhirnya memutuskan untuk singgah sebentar di bistro ini.

IMG_3583
Spiegel Bar & Bistro, Semarang

Spigel Bar & Bistro terletak di sebelah timur Gereja Belenduk tepatnya di Jl. Letjen Suprapto Kota Lama Semarang. Bar ini berdiri dibangunan dengan usia lebih dari 120 tahun, dan bar ini juga  menawarkan sajian menu western di dalamnya.

IMG_3599
Spiegel Bar & Bistro, Semarang

Peniliaian yang salah terhadap harga makanan dan minuman di bistro ini. Ternyata harga masih sangat terjangkau jika dibandingkan dengan kafe atau restoran yang berada di Semarang. Untuk rasa tidak perlu diragukan lagi, bistro ini tidak kalah dengan bar-bar yang berada di Jakarta.

Jangan sampai melewatkan tempat ini ketika kamu memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Semarang.

Spiegel Bar & Bistro

Jalan Letnan Jenderal Suprapto No. 34, Kota Lama, Kota Semarang, Jawa Tengah 50174

10 AM – 12 AM

(024) 3580049

Instagram: @spiegelbistro

Menikmati Cantiknya Sunrise di Atas Gunung Ungaran

Gunung yang memiliki ketinggian 2.050 mdpl ini sangat cocok untuk pendaki pemula. Walau gunung ini tidak terlalu tinggi tetapi medan yang dimiliki tidak bisa diremehkan begitu saja.

Gunung Ungaran  terletak di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Gunung ini memiliki beberapa jalur yang bisa kamu lewati, yaitu Jalur Pendakian via Gedong Songo, via Promasan dan yang paling favorit adalah Jalur Pendakian via Jimbaran atau  yang dikenal dengan basecamp mawar.

Saya dan ketiga rekan saya memulai pendakian melalui basecamp mawar. Sebelum kami sampai di basecamp, kami melewati Kawasan Umbul Sido Mukti yang padat pengunjungnya saat itu dikarenakan musim libur lebaran.

Sampainya kami di basecamp mawar, seperti biasa kami melakukan packing ulang dan mengecek semua perlengkapan yang akan kami bawa ke atas.

IMG_4531
Basecamp Mawar, Gunung Ungaran

Sebagai awal pendakian, trek yang akan kalian temukan masih cukup ringan, trek terbuka dan tidak terlalu menanjak. Pos 1 tidak memiliki tempat yang terlalu besar dan hanya menggunakan seng sebagai penutup pos ini. Kalian akan menemukan pos ini di sebelah kiri jalur pendakian.

Melanjutkan perjalanan dari pos 1 menuju pos 2, trek yang akan dilewati masih sama yaitu lereng gunung yang masih bersahabat. Dari pos 2, kami mulai mempercepat langkah kami untuk segera mendirikan tenda.

Dari pos 3 kami memutuskan untuk tidak melewati jalur kebun teh karena jalurnya yang memutar dan jauh. Akhirnya kami melalui trek hutan yang cukup lembab dan jalur mulai menanjak.

Ternyata setelah memasuki hutan yang cukup lembab dan trek mulai menanjak, ini lah trek sesungguhnya Gunung Ungaran. Kalian akan disuguhkan jalur pendakian yang cukup terjal dan menanjak dengan keadaan hutan terbuka.

Bebatuan besar dan trek yang terus menanjak akan mendominasi perjalanan kalian menuju puncak ungaran.

IMG_4574
Jalur mulai menanjak dan bebatuan besar

Kami mendirikikan tenda di camp area yang tidak jauh dari puncak yang biasa digunakan untuk camp. Gunung ungaran ini memiliki tiga puncak yaitu Puncak Gendol, Puncak Botak dan Puncak Ungaran dengan ketinggian 2.050 mdpl.

IMG_4592
Tugu Puncak Ungaran

Dari camp area, kami sedikit menanjak untuk mencari spot sunrise terbaik di Ungaran. Betul saja, tidak lama kami jalan, kami menemukan spot  yang bagus untuk menikmati sunrise Ungaran yang saat itu bersinar sempurnah secara perlahan.

IMG_5086
Sunriseeeeeee yay

IMG_5073

Thank you Ungaran for the beautiful sunrise! Love it

Pertama Kali Mendaki? Yuk ke Gunung Andong

Pasalnya , saat ini kegiatan alam mendaki gunung sedang menempati masa kejayaannya. Para pendaki senior sebelumnya berhasil mengembangkan dan memperkenalkan gunung-gunung dan kegiatan positif ini keberbagai banyak orang.

Untuk kamu yang baru pertama kali ingin  mencoba mendaki gunung atau bahkan masih terbilang pemula dalam hal pendakian, tidak ada salahnya untuk mencoba gunung yang satu ini. Gunung yang terletak di Kabupaten Magelang di antara Ngablak, Tlogorjo dan Grabag memiliki ketinggian 1.726 meter di atas permukaan laut. Ya, Gunung Andong.

Gunung Andong adalah salah satu gunung yang wajib kamu coba. Track gunung ini tidak begitu curam dan juga tidak terlalu datar. Untuk mencapai puncak, kamu hanya memerlukan waktu sekitar 2 jam saja. Wah waktu yang singkat bukan?

IMG_5035.JPG

Tidak hanya tracknya saja  yang bersahabat, pemandangan yang diberikan gunung ini juga tidak kalah dari gunung tinggi lainnya yang ada di Indonesia.  Pada pos 1 kamu sudah akan memasuki jalur dengan pemandangan hutan pinus yang rindang dan indah.

Sesampainya di puncak, kamu bisa menikmati pemandangan yang berbeda-beda. Kenapa berbeda? Malam hari, kamu bisa menikmati indahnya Kota Magelang dari atas puncak, kemudian  paginya kamu bisa menikmati sunrise dan keindahan Gunung Merbabu yang bersebrangan persis dengan Puncak Andong.

Processed with VSCO with c1 preset
Pemandangan Gunung Merbabu dari Puncak Andong

Lengkap buka? Paket lengkap ini memang menjadi alasan tersendiri untuk saya mendaki Gunung Andong. Kamu?