The Gade Coffee & Gold: Ngopi di Kafe Milik Pegadaian

Hitam dan emas adalah warna dominan yang akan menyambut kamu saat menyambangi sebuah kafe dibilangan Jakarta Selatan. Berlokasi di Jl. Wijaya IX, The Gade Coffee & Gold mencoba bersaingi dengan kafe-kafe kopi pendahulunya di Jakarta.

Kafe yang digawangi oleh salah satu perusahaan BUMN yaitu Pegadaain kini memberikan alternatif pilihan untuk para anak muda dengan menghadirkan sebuah kafe yang nyaman. Tidak hanya itu, sebenarnya The Gade Coffee & Gold dihadirkan supaya anak muda tidak perlu malu lagi untuk datang ke Pegadaian, karena di kafe ini mereka dapat menggadaikan barangnya melalui karyawan kafe.

The Gade Coffee & Gold beroperasi setiap harinya dimulai dari pukul 10 pagi s.d 10 malam. Mencoba bersaing dengan kafe lainnya, nyatanya kafe ini juga memberikan harga yang ramah bagi para customernya dan juga tetap menjaga kualitas rasa minuma serta makanan yang mereka jual.

Saat saya mencoba datang ke salah satu storenya di Jl. Wijaya IX, saya memesan Ice Lyche Milk Tea dan Ice Salted Caramel. Dari kedua minuman tersebut, saya mendapatkan sebuah pengalaman yang berbeda. Baru kali ini mencoba ice lyche yang dicampur dengan milk tea memiliki rasa yang sangat pas.

Tempat yang cocok untuk melakukan diskusi pekerjaan atau tugas sekolah karena tempat yang nyaman dan tidak terlalu ramai ini bisa menjadi pilihan kamu lho.

The Gade Coffee & Gold

Alamat
Jl. Wijaya IX, Dharmawangsa, Jakarta

 

Advertisements

#MainSebentar: Menunggu Senja di Pantai Pasir Perawan

Pagi itu stasiun masih nampak terlihat sepi dan tenang dari para penumpang. Pukul 05.00 saya sudah berada di Stasiun Tanah Abang untuk menunggu commuter line jurusan Stasiun Angke. Ya, weekend ini saya berencana untuk pergi ke Pulau Pari, Kep. Seribu.

Untuk bisa menyebrang ke Pulau Pari, kita harus terlebih dahulu membeli tiket kapal penyebrangan di Dermaga Muara Angke. Kamu bisa menggunakan transportasi commuter line dengan jurusan Stasiun Angke setelah itu berganti dengan ojek online atau ojek pangkalan.

Tiba di Dermaga Muara Angke, saya langsung mengantri diloket tiket karena memang saat itu ramai sekali dengan para wisatawan yang ingin menyebrang ke beberapa pulau di Kepulauan Seribu. Untuk tiket penyebrangan ke Pulau Pari saat ini dikenakan tarif sebesar Rp 40 ribu setiap orangnya, dan biaya retribusi masuk sebesar Rp 2 ribu saja.

Kapal yang sudah mulai dipenuhi oleh wisatawan mulai berangkat pukul 08.00 WIB. Karena ini bukan pengalaman pertama saya menyebrangi Pulau Seribu sehingga saya lebih memilih untuk tidur disepanjang penyebrangan.

Penyebrangan dari Dermaga Muara Angke hingga Pulau Pari memakan waktu kurang lebih 3 jam dan tepat pukul 11.00 kapal mulai bersandar di dermaga Pulau Pari. Bergegas turun dari kapal, ternyata dua orang teman saya sudah menunggu di dermaga untuk menjemput saya dan mengantarkan ke penginapan.

Siang itu saya hanya menikmati udara pantai sambil bermain hammock di Pantai Bintang. Saya memilih untuk bersantai di Pantai Bintang karena memang tempat ini tidak terlalu ramai oleh pengunjung, selain itu suasana yang sejuk membuat saya betah berlama-lama di pantai ini.

Selain bersantai, di Pantai Bintang ini kamu juga bisa membuat berbagai acara bersama teman-teman atau keluarga, karena memang pantai ini cukup luas dan bersih. Jika kamu seorang backpacker, tempat ini cocok untuk kamu mendirikan tenda. Untuk selalu menjaga kebersihan, kamu akan dikenakan biaya Rp 2 ribu sebelum memasuki Pantai Bintang.

IMG_7761
Pantai Bintang, Pulau Pari

Puas menikmati angin pantai dan bersantai di hammock, saya kembali pulang ke penginapan untuk makan siang yang kemudian dilanjutkan berbincang dengan ke dua teman saya dan pemilik penginapan.

Tidak terasa, obrolan kami sudah memakan waktu hingga pukul 16:00 WIB. Saya langsung bergegas menyiapkan sepeda untuk pergi menikmati sunset di Pantai Pasir Perawan. Ya, Pantai Pasir Perawan ini memang salah satu spot terbaik di Pulau Pari untuk menikmati tenggelamnya matahari.

Pantai Pasir Perawan ini memiliki pasir sangat putih dan air pantai yang tenag. Dipingir pantai  terdapat banyak gazebo untuk kamu bisa menikmati keindahan pantai ini. Tidak hanya itu, jika air pantai sedang suruk, kamu bisa melewati pantai satu ke pantai lainnya dengan berjalan kaki, tapi jika air sedang pasang saat itu, terpaksa kamu akan basah-basahan untuk melewatinya.

Saya hanya duduk-duduk di pinggir pantai untuk menunggu matahari perlahan terbenam. Rasanya teduh, senja mulai terbenam dan saya hanya menikmatinya perlahan.

IMG_8244
Senja di Pantai Pasir Perawan

Saya jadi ingat tentang kutipan senja yang begitu saya suka, mungkin seperti ini  bunyinya, “Ada orang pernah bilang bahwa mengapa senja selalu menyenangkan. Kadang senja itu berwarna hitam, kelam, kadang dia merah merekah. Tapi, langit selalu menerima senja apa adanya”

One Day Trip ala Pulau Seribu

Siapa yang tak kenal Jakarta dengan segala metropolitannya. Ibu Kota Negara ini memang memberikan fasilitas yang sangat lengkap di segala penjuru kotanya, dari makanan pingir jalan hingga restoran mewah, dari brand lokal hingga internasional, pusat perkantoran dengan kemegahannya. Ya, semua dapat kamu temukan di Jakarta. Tapi siapa sangka jika Jakarta memiliki pulau pulau kecil yang bisa kamu nikmati hanya dalam satu hari saja.

Pulau yang berada pada gugusan Kepulauan Seribu ini memang sedang menjadi daya tarik bagi para wisatwan lokal khusunya. Selain dengan harag serta lokasi yang masih terjangkau, tidak hanya pemandangan pantai saja yang bisa di nikamti, pulau-pulau ini juga banyak menyajikan sejarah pada masa lampau.

Sebut saja Pulau Kelor atau yang dulu dikenal dengan Pulau Kherkof. Pulau yang bisa kamu kunjungi sekitar 45 menit dari tempat pelelangan ikan kamal muara atau sekitar 60 menit dari pantai ancol. Pulau kelor ini memiliki peninggalan berupa galangan kapal atau benteng yang dibangun oleh VOC untuk menghadapi serangan Portugis pada abad ke 17. Benteng bernama Martelo inilah yang menjadi salah satu daya tarik bagi para pengunjungnya. Seperti biasa kegiatan di pulau ini kita bisa mengelilingi pulau sambil berfoto dengan pemandangan laut dan Benteng Martelo.

Pulau ke dua adalah pulau kahyangan, sedikit terdengan asing memang tapi siapa sangka jika pulau ini biasa di sebut dengan Pulau Cipir. Pulau cipir ini juga banyak meninggalkan sejarah yang saat ini hanya tersisa puing-puing bangunan saja. Pada masa VOC, pulau ini menjadi tempat karantina haji, baik mereka yang ingin berangkat melakukan ibadah haji ataupunkembali hajinya. Para haji diperiksa kesehatannya, tetapi ini hanya kamuflase dari para penjajah supaya mereka tidak dapat menyebarkan agama islam.

Processed with VSCO with c1 preset
Pulau Cipir, Kep. Seribu

Semakin sore, suasan dipulau ini semakin sejuk dan kalian bisa berfoto di jembatan putus yang menghubungkan dengan pulau onrust.

Pulau terakhir yang saat ini menjadi ramai bukan lain adalah Pulau Onrust. Ya, pulau ini memang tidak jauh letaknya dari pulau cipir.

Onrust sendiri diambil dari bahasa Belanda yang artinya “tidak pernah beristirahat” . Pulau yang dulunya dijadikan sebagai asrama haji bagi para jamaah yang ingin berlayar ke Arab Saudi. Pulau Onrust pun kemudian menjadi pulau tahanan bagi para pemberontak penjajah. Pulau ini menjadi saksi tewasnya para tahanan politik kelas berat pada masa jajahan Belanda.

Jika berkunjung ke pulau ini, kalian masih bisa melihat musem dan sisa puing-puing bangunan pada jaman jajahan Belanda. Ada juga pemakaman yang memiliki cerita romantis dibaliknya.

IMG_3243
Pulau Onrust, Kep. Seribu

Pulau ini juga tidak kalah dengan 2 pulau sebelumnya. Pulau yang memberikan pesona hamparan laut berpadu dengan misteri kelam, menajdikan pulau ini terlihat eksotis jika kamu berada disini.

Naik Taksi / Mobil Pribadi – Naik TOL arah Bandara Soetta lalu keluar di Pintu Tol Kamal 1, setelah turun Tol Kamal 1 akan ketemu dengan Putaran Balik, setelah sampai di Putaran Balik langsung Putar Balik & Belok Kiri Menuju Muara Kamal / Pasar Ikan Muara Kamal (+/- 30 Menit dari lampu merah tersebut menuju Muara Kamal / Pasar Ikan Muara Kamal) / setelah keluar TOL Kamal 1 dapat bertanya kepada penduduk setempat dimana letak Pasar Ikan Muara Kamal

Yuk Wisata Keliling Ibukota Dengan Bus Tingkat!

Wisata keliling ibukota? Pernah terfikir untuk wisata murah keliling kota Jakarta, menikmati ramainnya Ibukota, memandangi gedung pencakar langit yang berjejer di Ibukota? Tidak banyak mungkin yang berfikir untuk mencoba berwisata keliling Ibukota. Alasannya klasik, macet, sudah terlalu mainstream dan cuma itu-itu aja.

Justru, wisata keliling Ibukota adalah hal yang jarang ditemui khususnya di Jakarta sendiri. Pasalnya, para penduduk Jakarta lebih memilih untuk menikmati kota lainnya dibanding untuk mencoba menelusuri sedikit saja keunikan Ibukota.

Belakangan ini Pemprov DKI menyediakan layanan Jakarta Bus City Tour wisata keliling Jakarta, gratis. Usaha ini adalah salah satu bentuk dukungan Pemprov DKI dalam  mendorong wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia.

Penasaran ingin berwisata keliling Ibukota? Jangan khawatir, kamu hanya cukup menunggu di halte yang bergambar bus tingkat dan bertuliskan city tour atau kamu bisa lihat jadwal serta jalur pemberhentian bus tingkat city tour berikut:

Jadwal dan Jam Operasional Jakarta Bus City Tour:

Hari Senin – Sabtu: Jam 09.00 pagi – 19.00 malam

Hari Minggu: Jam 12.00 siang – 19.00 malam

Rute dan Jalur Pemberhentian Jakarta Bus City Tour:

Hari Senin – Jumat (9 halte): Halte Bundaran (HI) Hotel Indonesia – Halte Museum Nasional – Halte Pecenongan – Halte Pasar Baru – Halte Masjid Istiqlal – Halte Monas 1 – Halte Monas 2 – Halte Balai Kota – Halte Sarinah.

Hari Sabtu – Minggu (5 halte): Halte Bundaran (HI) Hotel Indonesia – Halte Museum Nasional – Halte GKJ Sarinah – Halte Masjid Istiqlal (Monas 1), Halte Balai Kota (Monas 2)

Menarik bukan menaiki bus tingkat dengan memandangi Ibukota yang metropolis. Sudah banyak lho wisatawan asing dan lokal yang mencoba. Bagaimana dengan kamu?

Foto featured oleh jakartatraveller.com