Gunung Sumbing via Kaliangkrik

Tulisan ini saya dedikasikan kepada rasa rindu terhadap pendakian yang sudah hampir 10 bulan tidak pernah mendaki kembali hehe (lebay).

Tepat pertengahan Agustus tahun lalu menjadi pendakian terakhir dalam 2017, Gunung Sumbing menutup pendakian dengan pemandangan yang luar biasa tentunya. Berangkat dari Jakarta bersama ke dua teman lelaki yaitu Mas Roni dan Mas Dindin sebagai partner baru saya.

IMG_6800

Kami berangkat dari Stasiun Pasar Senen menggunakan KA Kertajaya yang berakhir di Stasiun Semarang Tawang tepat pukul 21:00 WIB. Setibanya di Stasiun Semarang Tawang, kami sudah dijemput oleh beberapa rekan Mas Roni yang berada di Semarang dan kami pun bermalam di kampung halaman Mas Roni di Boyolali. Boyolali memang selalu menjadi tempat persinggahan kami jika ingin mendaki gunung yang berada di Jawa Tengah, karena memang Mas Roni aseli Boyolali.

Kami mulai berangkat dari Boyolali sekitar pukul 09:00 WIB dengan rencana mendaki Gunung Sumbing via Kaliangkrik. Baru kami tiba di basecamp Kaliangkring udara sudah sangat dingin sekali di sana. Seperti biasa kami melakukan simaksi dan packing ulang sebelum pendakian dimulai. Tepat setelah ba’da zuhur, kami memulai pendakian Gunung Sumbing via Kaliangkrik dengan jumlah personil 3 orang yaitu saya, Mas Roni dan Mas Dindin, kegembiraan menyelimuti perjalanan kami.

IMG_6829

Jalur hutan terbuka menjadi ciri khas dari Gunung Sumbing sendiri, dari  basecamp hingga tempat mendirikan tenda, kalian dapat memandangi setiap kelok dan jalan menuju puncak. Tidak hanya hutan terbuka, tanah dan debu juga mendominasi perjalanan kali ini pada musim panas di Gunung Sumbing.

Gunung Sumbing juga tidak memiliki area camping yang cukup luas, alhamdulilah ketika kami datang ada satu rombongan pendaki yang hendak turun. Segera kami mendirikan tenda dan membersihkan diri dari debu yang menempel keseluruh tubuh kami. Panas dan debu yang  luar biasa menjadi tantangan pendakian di Gunung Sumbing.

Tidak lama tenda berdiri, gerimis pun mulai turun tapi hanya beberapa menit saja dan awan kembali cerah. Kami mulai mengeluarkan alat masak dan logistik yang telah disiapkan, sedikit lupa waktu itu kami memasak apa hehe.

Sekitar pukul 04.00 pagi kami memulai summit. Eh iya gus, biasakan sarapan atau mengisi perut sebelum melakukan summit, itu hal yang sangat penting. Selain menambah tenaga, sarapan sebelum summit juga dapat menghindari dari masuk angin lho.

Karena jenis track Gunung Sumbing ini adalah hutan terbuka dan jarang terdapat pohon yang tinggi, sehingga membuat angin begitu kencang diarea yang semakin tinggi. Begitu, sesampainya di pos 4, suara angin sangat terasa dan terdengar kencang hembusannya. Di pos 4 ini sama sekali tidak ada pohon tinggi, hanya lahan yang sedikit luas untuk mendirikan tenda, dan kami memutuskan beristirahat sejenak di pos 4.

Saya mulai membuka daypack yang isinya adalah beberapa snack, air minum, susu kental manis dan roti tawar. Roti tawar yang dioles susu kental manis rasanya begitu nikmat untuk mengganjal perut yang keroncongan. Apa pun makanannya minumnya teh botol sosro, eh bukan maksudnya, apa pun makanannya selama itu di gunung akan terasa nikmat hehe.

Selesai beristirahat, kami mulai melanjutkan perjalanan ke puncak. Alhamdulilah, perjalanan kami tidak dipenuhi pendaki, sehingga track dan gunung serasa miliki sendiri. Selama perjalanan setelah meninggalkan pos 4, tak sering saya menengok ke belakang karena pemandangan yang sungguh luar biasa. Ditambah, saat itu cuaca sangat cerah dan awan pun terlihat begitu cantik.

Semangat terus dan semangat, mengantarkan saya dan ke dua rekan saya Mas Roni dan Dindin sampai di puncak sejati Gunung Sumbing. Kami meregangkan kaki terlebih dahulu sebelum puas mengambil foto di atas puncak. FYI, hanya ada 3 rombongan saat itu di atas puncak termasuk rombongan saya dan semua pendaki berasal dari Jakarta haha.

Menikmati keindahan puncak Sumbing yang begitu cerah dan cantik, kami mulai berjabat tangan dan menyapa pendaki lainnya. Kami termasuk para pendaki yang beruntung saat itu karena cuaca yang sangat cerah dan sepi dari pendaki lainnya.

Luar biasa, aku seneng banget sih bisa dapet kesempatan menginjakan kaki di puncak sejati Gunung Sumbing dengan pemandangan yang terlalu indah ini. Sudah di atas tentu saya tidak ingin menyia-nyiakan moment yang ada. Menatap ke semua sisi puncak, memotret setiap sudut keindahan yang ada.

Sebelum turun kami menyempatkan membuat video bersama pendaki lainnya yaitu ucapan Hari Kemerdekaan Indonesia, karena saat itu bertepatan dengan momentum kemerdekaan RI.

Sampai saat ini Gunung Sumbing masih menempati posisi terfavorit dihati saya, kalo kamu?

Advertisements

Blog at WordPress.com.

Up ↑